Alhamdulillah,
Ramadhan 1441 H/2020 M kali ini terasa sangat berbeda dibanding Ramadhan
sebelum-sebelumnya. Ketika umat muslim harus menjalankan kewajiban shaumnya di
bulan Ramadhan, yang juga pada saat yang sama seluruh dunia saat ini tengah
diselimuti wabah yang telah merenggut lebih kurang 270 ribuan jiwa. Tentu ini
kondisi yang sangat berat, seluruh pergerakan manusia dibatasi dengan aturan –
aturan yang bersifat sosial distancing. Kita terpaksa tidak bisa terawih
dan tadarusan di masjid, i’tikaf atau nanti tidak bisa melaksanan shalat ‘Ied
(Idul Fitri).
Maka
kemudian tidak sedikit yang mengatakan jika Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan
yang sulit sekaligus Ramadhan yang tidak menggembirakan. Tapi sebagai yang
beriman tentu kita harus memiliki pandangan yang optimis, karena bagi orang
beriman semua keadaan yang menimpa dirinya pasti membawa kebaikan, sebagaimana
sabda Nabi,
“Alangkah
mengagumkannya keadaan orang beriman, karena semua keadaannya (membawa)
kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia
mendapat kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan bagi dirinya,
dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan bagi
dirinya” (HR.
Muslim)
Jika sudah begini kondisinya kita tetap harus bahagia.
Karna terlalu lama bersedih juga tak merubah apapun. Seperti yang sudah
diajarkan oleh Nabi Ayyub ‘alaihisalam, walaupun beliau dalam keadaan
sakit yang payah selama 7 tahun tapi beliau masih bisa berhitung. Bahwa beliau
sudah diberi banyak kenikmatan selama 70 tahun sebelumnya, mulai dari keturunan
yang banyak, hewan ternak yang gemuk – gemuk dan harta yang melimpah tapi
kemudian semua itu satu per satu Allah ambil kembali.
Oleh sebab itu kita tak perlu larut dalam kesedihan. Karena
jika kita hitung dengan benar ternyata kita sadari bahwa ujian itu singkat. Sebagaimana
ujian di sekolah waktunya palingan berkisar sepekan atau dua pekan. Sisanya kita
belajar seperti biasa, ekskul, nongkrong atau sekedar main – main. Makanya tidak
wajar jika ujiannya hanya sepekan atau dua pekan lalu membuat kita depresi,
menderita, merasa seolah – olah sekolah itu tidak ada gunanya dan membuat kita
lupa bahwa berbulan – bulan sebelumnya kita sudah hidup senang. Sama sekali itu
tidak fair.
Bagaimana pun berbahagia lah. Karna yang beriman tak pernah
lepas dari ujian. Dari dulu kita diajarkan bahwa ber – Islam bukan berarti
semua masalah bisa berkurang. Jika begitu, kenapa banyak sahabat Nabi yang sudah bersyahadat tapi kemudian malah masalahnya semakin besar, diteror,
disiksa, dibunuh, dikucilkan dan sebagainya. Lalu muncul pertanyaan selanjutnya,
jika beriman itu justru membuat susah lalu mengapa mereka tidak berhenti saja? Jawabannya
adalah karena mereka bahagia.
Mengapa justru bahagia? Mungkin itu pertanyaan
seriusnya. Menurut Buya Hamka, bahagia itu lantaran manusia yakin akan jalan
yang Allah pilihkan untuknya. Keyakinan itu datang dari Kitabullah dan siroh
Rasulullah. Keyakinan itu yang membuat kita bahagia karena tertusuk duri
sekalipun Allah akan menghapus dosa kita. Sebagaimana sebuah hadist yang
berisi,
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan atau penyakit atau
kekhawatiran atau kesedihan atau gangguan bahkan duri yang melukainya melainkan
Allah akan menghapus kesalahan –
kesalahan karenanya” (HR. Bukhari & Muslim)
Jadi tidak ada jaminan bahwa yang namanya hidup kita tidak akan
merasakan sakit, dikhianati atau kesusahan tapi kita mendapat kepastian bahwa
apapun yang menimpa diri kita pasti Allah akan melihat dan Allah juga yang
memperhitungkan kelak di hari dimana tidak ada satu pun yang bisa lari dari kuasa-Nya.
Lalu sudahkah merasa yakin dengan janji Allah hari ini?
Fashbir inna wa'dallahi haq ...
BalasHapusIyaak itu rujukannya, QS. ar-Rum : 60
Hapus