Serangan
wabah Corona yang meledak di Kota Wuhan pada penutupan tahun 2019 lalu, kini
terus meluas hingga tercatat 198 negara yang tak luput dari wabah ini. Walaupun
tidak mematikan artinya hampir-hampir tak ada tempat yang aman dari wabah ini.
Tidak mematikan karena di negeri asalnya dari 81 ribu kasus total pasien sembuh
sekitar 74 ribu dan korban meninggal sekitar 3 ribu orang. Meskipun tidak
mematikan hanya saja penyebaran wabah ini sangat cepat antar manusia ke manusia
lain. Inilah yang dikhawatirkan. Namun dalam ulasan ini kita sedang tidak
membahas apa dan bagaimana cara yang tepat mencegah virus Corona, tapi
bagaimana dengan kejadian ini kita bisa merefleksikannya sebagai bagian dari
takdir Allah SWT.
Basahan
mengenai takdir tentu tak bisa kita pisahkan dari soal iman, karna tak beriman
seorang seorang muslim sebelum lengkap keimanannya dengan takdir Allah SWT.
Dengan kata lain pembahasan takdir merupakan satu bab dari kajian-kajian
tentang aqidah. Dan materi aqidah adalah salah satu materi yang suka tidak suka
harus dipelajari dalam ilmu fiqih. Karna ini tak sederhana, makanya banyak yang
menyebutkan jika wabah corona ini sebagai salah satu gerakan konspirasi dunia. Apalagi
setelah ditutupnya akses Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, semakin heboh lagi
bahwa ini adalah usaha Donald Trump dan sekutunya untuk menguasai dua kota suci
ini. Padahal Trump sendiri sedang tak berdaya menghadapi gempuran Corona yang
sampai saat ini Amerika adalah negara dengan kasus Corona terbesar. Padahal
pasti penutupan dua masjid suci diatas sudah didasarkan fatwa ulama, belum
lagi status masjid tersebut tidak sama
dengan masjid-masjid yang biasa kita temui disini.
Ada lagi isu corona sebagai senjata
biologis pemusnah massal manusia yang bocor, yang targetnya adalah depopulasi
muslim di seluruh dunia. Padahal yang kita tau, korban terbanyak corona berasal
dari negara yang penduduknya bukan mayoritas muslim, seperti Amerika, China,
Italia, Spanyol, dan seterusnya. Belum lagi harga minyak yang anjlok dan krisis
ekonomi yang mendera sebagian besar negara. Lantas siapa yang punya kepentingan
ini?
Ada
juga yang mengaitkan wabah ini sebagai fenomena akhir zaman dimana berhentinya
kumandang azan di masjid dan berhentinya tawaf di Ka’bah. Yang lebih ironi
adalah ‘pasukan kamikaze’ istilah untuk mereka yang berani mati dan mengatakan
bahwa kita tak boleh takut pada apapun kecuali kepada Allah SWT lalu menganggap
remeh bahkan nyiyir dengan larangan sholat Jum’at dari MUI. Ada pula yang
mengatakan kematian ada di tangan Allah SWT, mau itu karna virus atau bukan
tugas kita hanya beribadah, lalu beralasan jika mati di masjid saat sholat
adalah matinya orang syahid.
Rasulullah
sendiri pernah menyampaikan bahwa, “Sungguh, badanmu memiliki hak atas dirimu”.
(HR. Muslim). Diantara hak badan adalah membersihkan saat kotor dan mengobati
saat sakit. Allah SWT juga melarang manusia melakukan berbagai tindakan yang
membahayakan dirinya dari kerusakan sekalipun atas nama pendekatan agama (pada
QS. Al-Baqarah: 195) dan demi penjagaan terhadap fisik/kesehatan dalam bentuk
apapun, Allah SWT juga melarang manusia melakukan tindakan yang dapat membunuh
diri sendiri (pada QS. An-Nisaa: 29). Memang betul maut dan rezeki ada di
tangan Tuhan, tapi apakah elok jika kita bermain-main di tepi jurang atau
memacu kendaraan laju-laju kemudian pasrah dengan takdir Tuhan?
Mati
syahid juga tidak sesederhana mati saat sholat di masjid. Bisa saja kemudian
karena terinfeksi Corona matinya di kamar atau kasur rumah sakit atau bahkan
sebelum mati malah membuat runyam keadaan dengan menjadi penular virus ke orang
seisi komplek. Nyatanya mati syahid adalah konsekuensi dari keseriusan,
kegigihan seta kesabaran. Syahid bagi mereka yang berjihad adalah gelar
terhormat yang dimiliki manusia. Lihatlah Rasulullah dalam perang Uhud dan
puluhan sahabatnya yang syahid atau coba tengok Saad bin Abi Waqqash yang pergi
ditandu karna sakit harus memimpin 30 ribu pasukan dan menaklukan Persia yang
dipimpin Rustum dengan 120 ribu pasukan. Mereka yang menjadi syuhada sudah
berupaya sangat maksimal sampai akhirnya menjemput syahidnya sendiri. Lantas
apakah mereka yang abai dengan bahaya virus lalu tidak berusaha menghindarinya
semaksimal mungkin bisa dikatakan mati syahid?
Pada
hakikatnya manusia takut dengan kelaparan, kehilangan, neraka, siksa kubur dan
Allah SWT yang paling utama. Tapi manusia yang bijak adalah ia yang mampu
menimbang dan menghitung resiko serta bahaya. Orang yang berakal tentu tak
ingin anak balitanya hidup dalam kepulan asap rokok walaupun kematian sudah ada
waktunya, jika dibiarkan si balita akan tumbuh besar dengan paru-paru rusak.
Yang jatuh ke jurang juga tak selamanya mati, bisa saja dia cacat seumur hidup.
Pada
akhirnya, sebagaimana memiliki anak, tubuh ini juga adalah sebuah amanah dari
Allah SWT. Bagaimana mungkin bisa kita mempertanggung jawabkan di akhirat
kelak, jika tubuh ini tidak di rawat dan dibiarkan rusak?
Toh
virus Corona tidak terjadi setiap saat, mungkin ini takdir Allah SWT untuk kamu
merawat diri!
0 komentar:
Posting Komentar