Sabtu, 28 Maret 2020

Corona dan Teka Teki Takdir


Serangan wabah Corona yang meledak di Kota Wuhan pada penutupan tahun 2019 lalu, kini terus meluas hingga tercatat 198 negara yang tak luput dari wabah ini. Walaupun tidak mematikan artinya hampir-hampir tak ada tempat yang aman dari wabah ini. Tidak mematikan karena di negeri asalnya dari 81 ribu kasus total pasien sembuh sekitar 74 ribu dan korban meninggal sekitar 3 ribu orang. Meskipun tidak mematikan hanya saja penyebaran wabah ini sangat cepat antar manusia ke manusia lain. Inilah yang dikhawatirkan. Namun dalam ulasan ini kita sedang tidak membahas apa dan bagaimana cara yang tepat mencegah virus Corona, tapi bagaimana dengan kejadian ini kita bisa merefleksikannya sebagai bagian dari takdir Allah SWT.

Basahan mengenai takdir tentu tak bisa kita pisahkan dari soal iman, karna tak beriman seorang seorang muslim sebelum lengkap keimanannya dengan takdir Allah SWT. Dengan kata lain pembahasan takdir merupakan satu bab dari kajian-kajian tentang aqidah. Dan materi aqidah adalah salah satu materi yang suka tidak suka harus dipelajari dalam ilmu fiqih. Karna ini tak sederhana, makanya banyak yang menyebutkan jika wabah corona ini sebagai salah satu gerakan konspirasi dunia. Apalagi setelah ditutupnya akses Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, semakin heboh lagi bahwa ini adalah usaha Donald Trump dan sekutunya untuk menguasai dua kota suci ini. Padahal Trump sendiri sedang tak berdaya menghadapi gempuran Corona yang sampai saat ini Amerika adalah negara dengan kasus Corona terbesar. Padahal pasti penutupan dua masjid suci diatas sudah didasarkan fatwa ulama, belum lagi  status masjid tersebut tidak sama dengan masjid-masjid yang biasa kita temui disini.        

  Ada lagi isu corona sebagai senjata biologis pemusnah massal manusia yang bocor, yang targetnya adalah depopulasi muslim di seluruh dunia. Padahal yang kita tau, korban terbanyak corona berasal dari negara yang penduduknya bukan mayoritas muslim, seperti Amerika, China, Italia, Spanyol, dan seterusnya. Belum lagi harga minyak yang anjlok dan krisis ekonomi yang mendera sebagian besar negara. Lantas siapa yang punya kepentingan ini?

Ada juga yang mengaitkan wabah ini sebagai fenomena akhir zaman dimana berhentinya kumandang azan di masjid dan berhentinya tawaf di Ka’bah. Yang lebih ironi adalah ‘pasukan kamikaze’ istilah untuk mereka yang berani mati dan mengatakan bahwa kita tak boleh takut pada apapun kecuali kepada Allah SWT lalu menganggap remeh bahkan nyiyir dengan larangan sholat Jum’at dari MUI. Ada pula yang mengatakan kematian ada di tangan Allah SWT, mau itu karna virus atau bukan tugas kita hanya beribadah, lalu beralasan jika mati di masjid saat sholat adalah matinya orang syahid.

Rasulullah sendiri pernah menyampaikan bahwa, “Sungguh, badanmu memiliki hak atas dirimu”. (HR. Muslim). Diantara hak badan adalah membersihkan saat kotor dan mengobati saat sakit. Allah SWT juga melarang manusia melakukan berbagai tindakan yang membahayakan dirinya dari kerusakan sekalipun atas nama pendekatan agama (pada QS. Al-Baqarah: 195) dan demi penjagaan terhadap fisik/kesehatan dalam bentuk apapun, Allah SWT juga melarang manusia melakukan tindakan yang dapat membunuh diri sendiri (pada QS. An-Nisaa: 29). Memang betul maut dan rezeki ada di tangan Tuhan, tapi apakah elok jika kita bermain-main di tepi jurang atau memacu kendaraan laju-laju kemudian pasrah dengan takdir Tuhan?

Mati syahid juga tidak sesederhana mati saat sholat di masjid. Bisa saja kemudian karena terinfeksi Corona matinya di kamar atau kasur rumah sakit atau bahkan sebelum mati malah membuat runyam keadaan dengan menjadi penular virus ke orang seisi komplek. Nyatanya mati syahid adalah konsekuensi dari keseriusan, kegigihan seta kesabaran. Syahid bagi mereka yang berjihad adalah gelar terhormat yang dimiliki manusia. Lihatlah Rasulullah dalam perang Uhud dan puluhan sahabatnya yang syahid atau coba tengok Saad bin Abi Waqqash yang pergi ditandu karna sakit harus memimpin 30 ribu pasukan dan menaklukan Persia yang dipimpin Rustum dengan 120 ribu pasukan. Mereka yang menjadi syuhada sudah berupaya sangat maksimal sampai akhirnya menjemput syahidnya sendiri. Lantas apakah mereka yang abai dengan bahaya virus lalu tidak berusaha menghindarinya semaksimal mungkin bisa dikatakan mati syahid?  

Pada hakikatnya manusia takut dengan kelaparan, kehilangan, neraka, siksa kubur dan Allah SWT yang paling utama. Tapi manusia yang bijak adalah ia yang mampu menimbang dan menghitung resiko serta bahaya. Orang yang berakal tentu tak ingin anak balitanya hidup dalam kepulan asap rokok walaupun kematian sudah ada waktunya, jika dibiarkan si balita akan tumbuh besar dengan paru-paru rusak. Yang jatuh ke jurang juga tak selamanya mati, bisa saja dia cacat seumur hidup.

Pada akhirnya, sebagaimana memiliki anak, tubuh ini juga adalah sebuah amanah dari Allah SWT. Bagaimana mungkin bisa kita mempertanggung jawabkan di akhirat kelak, jika tubuh ini tidak di rawat dan dibiarkan rusak?

Toh virus Corona tidak terjadi setiap saat, mungkin ini takdir Allah SWT untuk kamu merawat diri!

Share:

0 komentar:

Posting Komentar