Semua orang tahu Iblis bukanlah makhluk yang
atheis. Iblis mengenal betul siapa yang menciptakannya. Dia juga bukan makhluk
yang bodoh, sebab dia punya strategi yang canggih untuk menyesatkan umat
manusia. Iblis adalah makhluk yang dekat dengan Allah. Tapi justru dia ingkar
dan karena kesombongannya dia jadi pembangkang, merasa dirinya hebat. Maka
jadilah saat itu dia kafir.
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada
Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik
daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari
tanah". (QS. Al-A’raf: 12)
Kesombongan Iblis menunjukkan siapa sebenar
dirinya. Dia merasa lebih hebat dari Nabi Adam as. Iblis berasal dari api
sedangkan manusia berasal dari tanah. Dirinya penuh percaya diri ketika
berargumen dengan Allah. Seolah-olah ada ketidaktahuan dari Allah SWT yang
Iblis coba koreksi. Kita tidak tahu persis apa yang ada dalam pikiran Iblis
saat itu, padahal perintah yang Allah berikan sudah sangat jelas. Barangkali dia
merasa bangga dengan menjadi kritis dibandingkan dengan para malaikat yang
pemikirannya kolot main terima saja. Atau bisa jadi dia tengah ber-ijtihad yang
kebetulan hasilnya berbeda dengan yang lain bahkan menentang perintah Allah.
Entahlah saat itu sebenarnya seperti apa pemikiran Iblis. Yang jelas, dia sudah
sombong dengan perintah sujud dihadapan manusia.
Kesalahan lain Iblis adalah buat apa dia
mengingatkan Allah SWT? Mungkin Iblis mengira Allah lupa akan sesuatu. Padahal
Allah Maha Tahu makhluk ciptaan-Nya, baik yang sudah terjadi atau yang belum
terjadi. Banyak manusia yang juga berpikir seperti ini, seolah-olah ada sesuatu
dalam syari’at Islam yang Allah tinggalkan atau Allah lupa menyempurnakan syari’at.
Padahal Allah sama sekali tidak lupa, kitanya saja yang sering salah. Dikiranya
Al-Qur’an itu bisa dikritisi, dicari-cari kesalahannya sampai ketemu. Bahkan
sampai ada bukunya yang khusus ditulis tentang kesalahan-kesalan dalam Al-Qur’an.
Setelah diteliti ternyata penulisnya yang salah memahami Al-Qur’an. Dikiranya
menggunakan hijab bagi perempuan adalah membatasi kebebasan bahkan melanggar
hak asasi manusia. Padahal menggunakan hijab adalah bentuk kemajuan berbusana
yang dimiliki manusia sekarang dari yang lampau. Sungguh ironi.
Cikal bakal materialisme datangnya dari Iblis
juga. Iblis merasa api miliknya lebih baik dari Adam as yang berasal dari
tanah. Pemikiran ini muncul jika pelakunya hanya melihat unsur fisiknya saja. Maka
nanti yang muncul di manusia adalah rasisme. Orang kulit putih Amerika
memperbudak orang kulit hitam Afrika. Dulu oleh penjajah orang-orang pribumi
tidak boleh sekolah tinggi-tinggi di Indonesia, syukur-syukur ada yang bisa
sekolah. Yang diperbolehkan sekolah hanya orang keturunan penguasa, orang-orang
pendatang. Munculnya fasisme juga dari sini, ketika orang Italia merasa lebih
superior dibanding orang Libya, bahkan Mussolini pernah mengatakan, “harusnya
orang-orang Libya merasa bangga karena diperbudak oleh bangsa Italia”. Apa bedanya
ini jika ada yang mengatakan Islam nusantara lebih baik dari Islam arab.
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat
kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan
seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab,
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak
kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)
Iblis telah benar-benar sombong, yaitu
menolak kebenaran yang datang dari Allah. Lantas Allah melaknat Iblis, mereka
kekal di dalam api neraka. Mendengar ultimatum dari Allah, Iblis tak kehilangan
akal, dia meminta kepada Allah,
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku
sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di
muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba
Engkau yang mukhlis di antara mereka” (QS. Al-Hijr: 39-40)
Kita mengakui Iblis telah sesat, tapi dia
bisa memainkan strategi tingkat tingginya untuk menyesatkan manusia pula. Jika
yang di mau Iblis adalah mengumpulkan massa sebanyak mungkin untuk membuat
deklarasi perang kepada Allah, orang-orang seperti Fir’aun, Nietzsche (“God is
dead”), Karl Marx (“Religion is the opium of the people”) pasti akan menyambut
baik seruan ini. Tapi lebih dari itu Iblis tak mau menyia-nyiakan kesempatan
emas ini hanya untuk berperang dengan Allah, Iblis mengumpulkan sebagian besar
umat manusia dari awal sampai manusia terakhir untuk memandang baik setiap
perbuatan maksiat.
Jika
yang haq telah dipandang sebagai sesuatu yang batil. Perbuatan maksiat terasa
sangat baik, orang yang menyimpang seolah telah pendapat petunjuk. Maka
pastilah Iblis sudah membelokkan akal manusia. Jika tidak bisa ditaklukan
dengan argumen lakukanlah dengan tipuan.
Perjuangan Iblis untuk meloloskan strateginya
sudah Allah legalkan sekaligus cap makhluk sesat. Padahal sedikit saja Iblis
menundukkan kesombongannya dan mohon ampun kepada Allah pastilah akan
diampukan. Sebab sudah kepalang sombong Iblis tidak ragu-ragu dicap sebagai
makhluk yang sesat. Berbeda dengan Nabi Adam as yang tergoda dengan rayuan
Iblis, terjerumus dalam dosa bahkan diusir dari surga tapi Nabi Adam as
bertobat dan menjadi hamba-Nya patuh. Masalah clear dengan tobat.
Sekarang tentara-tentara Iblis menyebar ke
se-antero negeri. Tugas Iblis menanamkan rasa sombong ke hati manusia berhasil,
bahkan orang yang terkena bisikan Iblis tak perlu lagi Iblis sibuk
menyesatkan dia. Orang sombong itu akan menyesatkan dirinya sendiri dan siap
menjadi kaki tangan Iblis menyesatkan orang lain. Maka jangan heran jika ada
doktor atau profesor yang sombong dengan titel panjangnya itu. Seolah tak ada
yang lebih pintar dibandingkan dia. Dengan itu dia membuat makalah-makalah,
tesis dan desertasi yang mempertanyakan keaslian Al-Qur’an. Menghasilkan
keraguan bagi yang membacanya, padahal dia adalah seorang doktor program studi
Al-Qur’an.
Inilah pesona Iblis yang tak mampu ditolak manusia. Setiap detik setiap menit Iblis membangun basis massa dan mempersenjatai mereka. Apakah kita tidak sadar jika mereka itu ada?
0 komentar:
Posting Komentar