Rabu, 10 Juli 2019

Kaki Tangan Iblis


Semua orang tahu Iblis bukanlah makhluk yang atheis. Iblis mengenal betul siapa yang menciptakannya. Dia juga bukan makhluk yang bodoh, sebab dia punya strategi yang canggih untuk menyesatkan umat manusia. Iblis adalah makhluk yang dekat dengan Allah. Tapi justru dia ingkar dan karena kesombongannya dia jadi pembangkang, merasa dirinya hebat. Maka jadilah saat itu dia kafir.

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Al-A’raf: 12)


Kesombongan Iblis menunjukkan siapa sebenar dirinya. Dia merasa lebih hebat dari Nabi Adam as. Iblis berasal dari api sedangkan manusia berasal dari tanah. Dirinya penuh percaya diri ketika berargumen dengan Allah. Seolah-olah ada ketidaktahuan dari Allah SWT yang Iblis coba koreksi. Kita tidak tahu persis apa yang ada dalam pikiran Iblis saat itu, padahal perintah yang Allah berikan sudah sangat jelas. Barangkali dia merasa bangga dengan menjadi kritis dibandingkan dengan para malaikat yang pemikirannya kolot main terima saja. Atau bisa jadi dia tengah ber-ijtihad yang kebetulan hasilnya berbeda dengan yang lain bahkan menentang perintah Allah. Entahlah saat itu sebenarnya seperti apa pemikiran Iblis. Yang jelas, dia sudah sombong dengan perintah sujud dihadapan manusia.

Kesalahan lain Iblis adalah buat apa dia mengingatkan Allah SWT? Mungkin Iblis mengira Allah lupa akan sesuatu. Padahal Allah Maha Tahu makhluk ciptaan-Nya, baik yang sudah terjadi atau yang belum terjadi. Banyak manusia yang juga berpikir seperti ini, seolah-olah ada sesuatu dalam syari’at Islam yang Allah tinggalkan atau Allah lupa menyempurnakan syari’at. Padahal Allah sama sekali tidak lupa, kitanya saja yang sering salah. Dikiranya Al-Qur’an itu bisa dikritisi, dicari-cari kesalahannya sampai ketemu. Bahkan sampai ada bukunya yang khusus ditulis tentang kesalahan-kesalan dalam Al-Qur’an. Setelah diteliti ternyata penulisnya yang salah memahami Al-Qur’an. Dikiranya menggunakan hijab bagi perempuan adalah membatasi kebebasan bahkan melanggar hak asasi manusia. Padahal menggunakan hijab adalah bentuk kemajuan berbusana yang dimiliki manusia sekarang dari yang lampau. Sungguh ironi.

Cikal bakal materialisme datangnya dari Iblis juga. Iblis merasa api miliknya lebih baik dari Adam as yang berasal dari tanah. Pemikiran ini muncul jika pelakunya hanya melihat unsur fisiknya saja. Maka nanti yang muncul di manusia adalah rasisme. Orang kulit putih Amerika memperbudak orang kulit hitam Afrika. Dulu oleh penjajah orang-orang pribumi tidak boleh sekolah tinggi-tinggi di Indonesia, syukur-syukur ada yang bisa sekolah. Yang diperbolehkan sekolah hanya orang keturunan penguasa, orang-orang pendatang. Munculnya fasisme juga dari sini, ketika orang Italia merasa lebih superior dibanding orang Libya, bahkan Mussolini pernah mengatakan, “harusnya orang-orang Libya merasa bangga karena diperbudak oleh bangsa Italia”. Apa bedanya ini jika ada yang mengatakan Islam nusantara lebih baik dari Islam arab.

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)

Iblis telah benar-benar sombong, yaitu menolak kebenaran yang datang dari Allah. Lantas Allah melaknat Iblis, mereka kekal di dalam api neraka. Mendengar ultimatum dari Allah, Iblis tak kehilangan akal, dia meminta kepada Allah,

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka” (QS. Al-Hijr: 39-40)

Kita mengakui Iblis telah sesat, tapi dia bisa memainkan strategi tingkat tingginya untuk menyesatkan manusia pula. Jika yang di mau Iblis adalah mengumpulkan massa sebanyak mungkin untuk membuat deklarasi perang kepada Allah, orang-orang seperti Fir’aun, Nietzsche (“God is dead”), Karl Marx (“Religion is the opium of the people”) pasti akan menyambut baik seruan ini. Tapi lebih dari itu Iblis tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini hanya untuk berperang dengan Allah, Iblis mengumpulkan sebagian besar umat manusia dari awal sampai manusia terakhir untuk memandang baik setiap perbuatan maksiat.

 Jika yang haq telah dipandang sebagai sesuatu yang batil. Perbuatan maksiat terasa sangat baik, orang yang menyimpang seolah telah pendapat petunjuk. Maka pastilah Iblis sudah membelokkan akal manusia. Jika tidak bisa ditaklukan dengan argumen lakukanlah dengan tipuan.

Perjuangan Iblis untuk meloloskan strateginya sudah Allah legalkan sekaligus cap makhluk sesat. Padahal sedikit saja Iblis menundukkan kesombongannya dan mohon ampun kepada Allah pastilah akan diampukan. Sebab sudah kepalang sombong Iblis tidak ragu-ragu dicap sebagai makhluk yang sesat. Berbeda dengan Nabi Adam as yang tergoda dengan rayuan Iblis, terjerumus dalam dosa bahkan diusir dari surga tapi Nabi Adam as bertobat dan menjadi hamba-Nya patuh. Masalah clear dengan tobat.

Sekarang tentara-tentara Iblis menyebar ke se-antero negeri. Tugas Iblis menanamkan rasa sombong ke hati manusia berhasil, bahkan orang yang terkena bisikan Iblis tak perlu lagi Iblis sibuk menyesatkan dia. Orang sombong itu akan menyesatkan dirinya sendiri dan siap menjadi kaki tangan Iblis menyesatkan orang lain. Maka jangan heran jika ada doktor atau profesor yang sombong dengan titel panjangnya itu. Seolah tak ada yang lebih pintar dibandingkan dia. Dengan itu dia membuat makalah-makalah, tesis dan desertasi yang mempertanyakan keaslian Al-Qur’an. Menghasilkan keraguan bagi yang membacanya, padahal dia adalah seorang doktor program studi Al-Qur’an. 

Inilah pesona Iblis yang tak mampu ditolak manusia. Setiap detik setiap menit Iblis membangun basis massa dan mempersenjatai mereka. Apakah kita tidak sadar jika mereka itu ada?
Share:

0 komentar:

Posting Komentar