Jumat, 26 April 2019

Jadi Apa Alumni Ramadhan ?


Sebagai sebuah negeri yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, kehidupan di Indonesia sangat dipengaruh dengan Ramadhan. Dengan jumlah ratusan juta jiwa, setiap tahunnya selama bulan bulan Ramadhan  mereka  menjalani ibadah - ibadah spesial yang hanya ada di bulan ini. Katakanlah jika dari ratusan juta jiwa tadi yang memang benar – benar serius menuai kebaikan di bulan Ramadhan ada puluhan juta orang itu sudah cukup baik. Namun apakah memang demikian adanya?

Jika kita bercermin pada peristiwa Perang Badar, maka angka puluhan juta orang tadi seharusnya bisa memberikan efek yang fantastis. Perang Badar yang terjadi di bulan Ramadhan tahun dua hijriah yang bertepatan dengan waktu pertama kalinya ibadah shaum disyariatkan. Berjumlah tiga ratusan pasukan muslim dengan persiapan senjata apa adanya berhasil menang mutlak memukul mundur seribu-an pasukan musyrikin. Jika di Indonesia ada puluhan juta “alumni Ramadhan” tiap tahunnya dengan kualitas sebanding dengan para alumni Badar maka kita sulit membayangkan betapa besar pengaruhnya di dunia. Tapi kita semua tau sayangnya itu tidak terjadi.

Apa yang sebernarnya terjadi? Jika prediksi puluhan juta dari ratusan juta tadi tidak realistis, maka pastilah ada kesalahan fatal dalam pemahaman dan pelaksanan ibadah Ramadhan di negeri ini. Begitu luasnya kesalahan yang terjadi sehingga berjuta – juta umat muslim tidak mampu memberikan perubahan yang signifikan padahal bulan Ramadhan tidak pernah absen tiap tahunnya.

Indonesia tidak pernah kehabisan pembicaraan mengenai Ramadhan. Bulan suci ini adalah favoritnya setiap orang, mulai dari aktivis dakwah sampai pemain sinetron. Sebagian orang begitu gigih menjaga “etos kerja” di bulan Ramadhan. Bahkan konon ada artis yang shaum-nya bolong karena begitu kelelahan mengisi acara – acara khusus Ramadhan setiap harinya. Sementara itu para “ahli agama” juga tidak sedikit menghabiskan waktunya mendebat tentang jumlah raka’at sholat tarawih atau dengan kesabaran menjawab pertanyaan masyarakat seputar batal tidaknya shaum seseorang yang diinfus karena sakit.

Hal diatas secara tidak langsung memberikan gambaran mengenai kondisi masyarakat kita yang diasumsikan mereka mengerjakan shaum, tapi mungkin sebagian besarnya tidak terlalu serius memikirkannya atau bisa jadi menggunakan pemahaman yang keliru dalam berpikir. Padahal ibadah shaum, kenyataannya bisa dipelajari oleh siapa saja bahkan anak kecil. Tapi mungkin masalahnya disitu, banyak yang hanya sekedar bisa.

Jika menunjuk bulan janganlah fokus pada jarinya dan mengaburkan bulan yang indah diatas. Begitu perumpamaan dengan shaum Ramadhan. Ujung dari perintah shaum ini adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Itu harapan besar dari Al-qur’an. Tapi lagi – lagi sebagian dari masyarakat berfokus pada jari bukan pada bulan. Dianggapnya shaum hanya tidak boleh makan, minum, dan berhubungan suami istri pada siang harinya. Memang jika mengerjakan salah satunya pada waktu subuh sampai maghrib maka shaum akan batal, tapikan tidak sesederhana itu kita memaknai Ramadhan.

Shaum seperti segala sesuatunya juga dipengaruhi secara langsung oleh jam terbang. Semua orang maklum jika anak 4 – 5 tahun shaum kemudian berbuka tengah hari dan melanjutkannya lagi hingga magrib, begitu juga dengan muallaf, karna itu adalah hal baru bagi mereka. Tubuh mereka perlu dikondisikan dan beradaptasi dengan shaum. Semakin tinggi jam terbangnya maka tuntutan pun semakin tinggi. Target – target ibadah dibuat. Jumlah tilawah mulai dipertanyakan, sholat duha mejadi “menu wajib”, ibadah wajib dimantapkan, ibadah sunah digetolkan, pemahaman ibadan shaum semakin tinggi. Tidak ada lagi yang ingat soal lapar dan haus, kedua hal itu tidak menjadi relevan lagi. Tidak ada lagi keluhan lemas – lemas, tidak bertenaga di bulan Ramadhan. Karena tubuh sudah terbiasa hasil dari latihan selama bertahun – tahun.

Sedikit saja yang ingat bahwa tujuan akhir kita agar kita semakin bertaqwa, semakin awas dengan keadaan diri kita, semakin berhati – hati agar tidak melalaikan kewajiban atau terjerumus dalam kemaksiatan. Tidak heran, sebab pikiran mereka disibukkan dengan lapar dan haus selebihnya tidak relevan.


   
Share:

0 komentar:

Posting Komentar