Sebagai sebuah negeri yang mayoritas penduduknya adalah
Muslim, kehidupan di Indonesia sangat dipengaruh dengan Ramadhan. Dengan jumlah
ratusan juta jiwa, setiap tahunnya selama bulan bulan Ramadhan mereka
menjalani ibadah - ibadah spesial yang hanya ada di bulan ini.
Katakanlah jika dari ratusan juta jiwa tadi yang memang benar – benar serius menuai
kebaikan di bulan Ramadhan ada puluhan juta orang itu sudah cukup baik. Namun
apakah memang demikian adanya?
Jika kita bercermin pada peristiwa Perang Badar, maka
angka puluhan juta orang tadi seharusnya bisa memberikan efek yang fantastis.
Perang Badar yang terjadi di bulan Ramadhan tahun dua hijriah yang bertepatan
dengan waktu pertama kalinya ibadah shaum disyariatkan. Berjumlah tiga ratusan
pasukan muslim dengan persiapan senjata apa adanya berhasil menang mutlak
memukul mundur seribu-an pasukan musyrikin. Jika di Indonesia ada puluhan juta “alumni
Ramadhan” tiap tahunnya dengan kualitas sebanding dengan para alumni Badar maka
kita sulit membayangkan betapa besar pengaruhnya di dunia. Tapi kita semua tau
sayangnya itu tidak terjadi.
Apa yang sebernarnya terjadi? Jika prediksi puluhan
juta dari ratusan juta tadi tidak realistis, maka pastilah ada kesalahan fatal
dalam pemahaman dan pelaksanan ibadah Ramadhan di negeri ini. Begitu luasnya
kesalahan yang terjadi sehingga berjuta – juta umat muslim tidak mampu memberikan
perubahan yang signifikan padahal bulan Ramadhan tidak pernah absen tiap
tahunnya.
Indonesia tidak pernah kehabisan pembicaraan mengenai
Ramadhan. Bulan suci ini adalah favoritnya setiap orang, mulai dari aktivis
dakwah sampai pemain sinetron. Sebagian orang begitu gigih menjaga “etos kerja”
di bulan Ramadhan. Bahkan konon ada artis yang shaum-nya bolong karena begitu
kelelahan mengisi acara – acara khusus Ramadhan setiap harinya. Sementara itu
para “ahli agama” juga tidak sedikit menghabiskan waktunya mendebat tentang
jumlah raka’at sholat tarawih atau dengan kesabaran menjawab pertanyaan
masyarakat seputar batal tidaknya shaum seseorang yang diinfus karena sakit.
Hal diatas secara tidak langsung memberikan gambaran
mengenai kondisi masyarakat kita yang diasumsikan mereka mengerjakan shaum,
tapi mungkin sebagian besarnya tidak terlalu serius memikirkannya atau bisa
jadi menggunakan pemahaman yang keliru dalam berpikir. Padahal ibadah shaum,
kenyataannya bisa dipelajari oleh siapa saja bahkan anak kecil. Tapi mungkin
masalahnya disitu, banyak yang hanya sekedar bisa.
Jika menunjuk bulan janganlah fokus pada jarinya dan
mengaburkan bulan yang indah diatas. Begitu perumpamaan dengan shaum Ramadhan.
Ujung dari perintah shaum ini adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Itu
harapan besar dari Al-qur’an. Tapi lagi – lagi sebagian dari masyarakat berfokus
pada jari bukan pada bulan. Dianggapnya shaum hanya tidak boleh makan, minum,
dan berhubungan suami istri pada siang harinya. Memang jika mengerjakan salah
satunya pada waktu subuh sampai maghrib maka shaum akan batal, tapikan tidak
sesederhana itu kita memaknai Ramadhan.
Shaum seperti segala sesuatunya juga dipengaruhi secara
langsung oleh jam terbang. Semua orang maklum jika anak 4 – 5 tahun shaum
kemudian berbuka tengah hari dan melanjutkannya lagi hingga magrib, begitu juga
dengan muallaf, karna itu adalah hal baru bagi mereka. Tubuh mereka perlu
dikondisikan dan beradaptasi dengan shaum. Semakin tinggi jam terbangnya maka
tuntutan pun semakin tinggi. Target – target ibadah dibuat. Jumlah tilawah
mulai dipertanyakan, sholat duha mejadi “menu wajib”, ibadah wajib dimantapkan,
ibadah sunah digetolkan, pemahaman ibadan shaum semakin tinggi. Tidak ada lagi
yang ingat soal lapar dan haus, kedua hal itu tidak menjadi relevan lagi. Tidak
ada lagi keluhan lemas – lemas, tidak bertenaga di bulan Ramadhan. Karena tubuh
sudah terbiasa hasil dari latihan selama bertahun – tahun.
Sedikit saja yang ingat bahwa tujuan akhir kita agar
kita semakin bertaqwa, semakin awas dengan keadaan diri kita, semakin berhati –
hati agar tidak melalaikan kewajiban atau terjerumus dalam kemaksiatan. Tidak heran,
sebab pikiran mereka disibukkan dengan lapar dan haus selebihnya tidak relevan.
0 komentar:
Posting Komentar