Jumat, 17 April 2020

Yang Masam Pun akan Manis, Sebab Ia Ditunggu


Puasa memiliki karakteristik istimewa dalam setiap peradaban manusia. Dalam prakteknya ia memiliki tujuan-tujuan tertentu yang hendak di capai oleh individu. Di dalam aliran Kejawen terdapat ajaran puasa mutih, tidak makan kecuali nasi putih. Di zaman modern, ada diet OCD (Obsessive Corbuzier’s Diet), salah satu program diet ala Dedy Corbuzier yang sudah terkenal sejak 2013. Pada al-Qur’an juga disebutkan bahwa puasa adalah amalan umat-umat terdahulu.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183)

Dalam ta’bir yang lebih mudah dipahami kira-kira begini; “Berpuasalah kalian wahai umat Muhammad dan kerjakanlah perintah ini sebab umat terdahulu juga diperintahkan untuk berpuasa”.

            Bukti puasa sudah dijalani umat terdahulu terdapat dalam al-Qur’an, tentang Nabi Adam ‘alaihissalam yang telah diperintahkan untuk tidak memakan buah khuldi (pada QS. al-Baqarah: 35). Nabi Musa ‘alaihissalam juga berpuasa tidak makan dan tidak minum selama 40 hari 40 malam pada saat menerima Sepuluh Firman (The Ten Commandments). Konon setelah keluar dari kapal, Nabi Nuh ‘alaihissalam berpuasa hingga seratus tahun lamanya. Nabi Daud ‘alaihissalam sehari berpuasa sehari tidak, sampai-sampai disebutkan; “Lututku melentuk oleh sebab berpuasa dan badanku menjadi kurus, habis lemaknya”. Demikian pula Nabi Isa ‘alaihissalam mewajibkan kaumnya berpuasa selama 40 hari 40 malam. Maryam, ibunda Nabi Isa ‘alaihissalam berpuasa hingga tidak berbicara dengan siapa pun (pada QS. Maryam: 26). Maka tidak heran jika Nabi Muhammad Saw sebelum diangkat menjadi Rasul telah mengamalkan puasa tiga hari setiap bulan dan turut mengamalkan puasa ‘asura yang jatuh pada hari ke- sepuluh bulan Muharram bersama masyarakat Quraisy lainnya.

            Tidak hanya manusia, makhluk hidup lainnya pun mengamalkan puasa. Makhluk yang sering dijadikan perbandingannya adalah kupu-kupu. Ulat menjijikan yang dianggap hama pada pohon, jika sudah masuk ke dalam kepompong dan melakukan puasa sampai beberapa waktu, setelah itu ia ‘terlahir’ sebagai kupu-kupu yang indah dan menyenangkan mata bagi yang melihat. Tapi perbuatan manusia tidaklah sama dengan hewan. Apapun yang dilakukannya hanya berdasar pada insting, adapun manusia bertindak karena dorongan akalnya. Karenanya kita senantiasa membedakan kata ‘shaum’ dan ‘puasa’. Hewan pun berpuasa tapi hanya manusia, lebih spesifik lagi yaitu yang beriman sajalah yang melaksanakan shaum.
           
Saat waktunya tiba, ulat akan berpuasa. Begitu pun beruang, ia tidak makan dalam waktu berbulan-bulan jika sudah tiba waktunya. Karna itulah cara bertahan hidup yang mereka ketahui. Manusia selalu selalu punya pilihan. Mereka  bisa makan dan minum bahkan secara sembunyi tapi mereka sadar untuk tidak melakukannya. Sebab itu shaum berbeda dengan ibadah lainnya, dengan shalat, sedekah, atau haji mungkin mereka bisa ‘pamer’ tapi sulit kita temui ada orang yang menyombongkan diri dengan ibadah shaum. karena semua orang pun tahu bahwa ia bisa saja makan dan minum ketika tak ada orang lain yang melihat. Karena itu, shaum hanya dilakukan karena Allah SWT. Manusia bisa kapan saja berbuat curang atau menolak untuk melaksanakan shaum sama sekali, namun orang-orang yang beriman secara sadar memilih untuk menunggu karena Allah SWT

Mereka tidak makan bukan karena di rumahnya tak ada makanan, melainkan karena mereka telah membuat pilihan. Mereka bersedia menunggu dari adzan Subuh hingga Maghrib untuk menyantap makanannya, meskipun semuanya halal dan telah terhidang di rumahnya. Itulah sebabnya Allah SWT memberi penghargaan yang sangat tinggi kepada hamba-hamba-Nya yang bersedia ‘menunggu’:
.
“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali shaum, sebab ia hanyalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung”. (HR. Bukhari)

            Menunggu adalah sebuah keindahan tersendiri. Buah yang masam jika ditunggu beberapa hari saja bisa berubah menjadi manis. Seringkali luka dalam hati tak bisa diobati dengan kata-kata atau hadiah, namun ia bisa sembuh oleh waktu.

           Menunggu adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan manusia. Jangan suruh hewan menunggu ketika sudah waktunya ia makan. Singa yang lapar akan menerkam mangsanya, tak bisa barang setengah jam pun ia menunda jika daging lezat sudah tersaji.

Jika manusia kehilangan kemampuannya untuk bersabar, maka ia telah kehilangan sebagian kemanusiaannya. Shaum adalah ibadah yang mengingatkan manusia akan jati dirinya sendiri. Bergembiralah orang yang dapat bersabar menunggu waktu berbuka!


Share:

1 komentar:

  1. Alhamdulillah, sudah dekat bulan puasa.

    Semakin paham bagaimana esensinya...

    BalasHapus