Sabtu, 09 Mei 2020

Tertusuk Duri? Berbahagia Lah


Alhamdulillah, Ramadhan 1441 H/2020 M kali ini terasa sangat berbeda dibanding Ramadhan sebelum-sebelumnya. Ketika umat muslim harus menjalankan kewajiban shaumnya di bulan Ramadhan, yang juga pada saat yang sama seluruh dunia saat ini tengah diselimuti wabah yang telah merenggut lebih kurang 270 ribuan jiwa. Tentu ini kondisi yang sangat berat, seluruh pergerakan manusia dibatasi dengan aturan – aturan yang bersifat sosial distancing. Kita terpaksa tidak bisa terawih dan tadarusan di masjid, i’tikaf atau nanti tidak bisa melaksanan shalat ‘Ied (Idul Fitri).

Maka kemudian tidak sedikit yang mengatakan jika Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan yang sulit sekaligus Ramadhan yang tidak menggembirakan. Tapi sebagai yang beriman tentu kita harus memiliki pandangan yang optimis, karena bagi orang beriman semua keadaan yang menimpa dirinya pasti membawa kebaikan, sebagaimana sabda Nabi,

“Alangkah mengagumkannya keadaan orang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapat kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan bagi dirinya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan bagi dirinya” (HR. Muslim)

Jika sudah begini kondisinya kita tetap harus bahagia. Karna terlalu lama bersedih juga tak merubah apapun. Seperti yang sudah diajarkan oleh Nabi Ayyub ‘alaihisalam, walaupun beliau dalam keadaan sakit yang payah selama 7 tahun tapi beliau masih bisa berhitung. Bahwa beliau sudah diberi banyak kenikmatan selama 70 tahun sebelumnya, mulai dari keturunan yang banyak, hewan ternak yang gemuk – gemuk dan harta yang melimpah tapi kemudian semua itu satu per satu Allah ambil kembali.

Oleh sebab itu kita tak perlu larut dalam kesedihan. Karena jika kita hitung dengan benar ternyata kita sadari bahwa ujian itu singkat. Sebagaimana ujian di sekolah waktunya palingan berkisar sepekan atau dua pekan. Sisanya kita belajar seperti biasa, ekskul, nongkrong atau sekedar main – main. Makanya tidak wajar jika ujiannya hanya sepekan atau dua pekan lalu membuat kita depresi, menderita, merasa seolah – olah sekolah itu tidak ada gunanya dan membuat kita lupa bahwa berbulan – bulan sebelumnya kita sudah hidup senang. Sama sekali itu tidak fair.    

Bagaimana pun berbahagia lah. Karna yang beriman tak pernah lepas dari ujian. Dari dulu kita diajarkan bahwa ber – Islam bukan berarti semua masalah bisa berkurang. Jika begitu, kenapa banyak sahabat Nabi yang sudah bersyahadat tapi kemudian malah masalahnya semakin besar, diteror, disiksa, dibunuh, dikucilkan dan sebagainya. Lalu muncul pertanyaan selanjutnya, jika beriman itu justru membuat susah lalu mengapa mereka tidak berhenti saja? Jawabannya adalah karena mereka bahagia.

  Mengapa justru bahagia? Mungkin itu pertanyaan seriusnya. Menurut Buya Hamka, bahagia itu lantaran manusia yakin akan jalan yang Allah pilihkan untuknya. Keyakinan itu datang dari Kitabullah dan siroh Rasulullah. Keyakinan itu yang membuat kita bahagia karena tertusuk duri sekalipun Allah akan menghapus dosa kita. Sebagaimana sebuah hadist yang berisi,

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan atau penyakit atau kekhawatiran atau kesedihan atau gangguan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus  kesalahan – kesalahan karenanya” (HR. Bukhari & Muslim)

Jadi tidak ada jaminan bahwa yang namanya hidup kita tidak akan merasakan sakit, dikhianati atau kesusahan tapi kita mendapat kepastian bahwa apapun yang menimpa diri kita pasti Allah akan melihat dan Allah juga yang memperhitungkan kelak di hari dimana tidak ada satu pun yang bisa lari dari kuasa-Nya.

Lalu sudahkah merasa yakin dengan janji Allah hari ini?

Share:

Jumat, 17 April 2020

Yang Masam Pun akan Manis, Sebab Ia Ditunggu


Puasa memiliki karakteristik istimewa dalam setiap peradaban manusia. Dalam prakteknya ia memiliki tujuan-tujuan tertentu yang hendak di capai oleh individu. Di dalam aliran Kejawen terdapat ajaran puasa mutih, tidak makan kecuali nasi putih. Di zaman modern, ada diet OCD (Obsessive Corbuzier’s Diet), salah satu program diet ala Dedy Corbuzier yang sudah terkenal sejak 2013. Pada al-Qur’an juga disebutkan bahwa puasa adalah amalan umat-umat terdahulu.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183)

Dalam ta’bir yang lebih mudah dipahami kira-kira begini; “Berpuasalah kalian wahai umat Muhammad dan kerjakanlah perintah ini sebab umat terdahulu juga diperintahkan untuk berpuasa”.

            Bukti puasa sudah dijalani umat terdahulu terdapat dalam al-Qur’an, tentang Nabi Adam ‘alaihissalam yang telah diperintahkan untuk tidak memakan buah khuldi (pada QS. al-Baqarah: 35). Nabi Musa ‘alaihissalam juga berpuasa tidak makan dan tidak minum selama 40 hari 40 malam pada saat menerima Sepuluh Firman (The Ten Commandments). Konon setelah keluar dari kapal, Nabi Nuh ‘alaihissalam berpuasa hingga seratus tahun lamanya. Nabi Daud ‘alaihissalam sehari berpuasa sehari tidak, sampai-sampai disebutkan; “Lututku melentuk oleh sebab berpuasa dan badanku menjadi kurus, habis lemaknya”. Demikian pula Nabi Isa ‘alaihissalam mewajibkan kaumnya berpuasa selama 40 hari 40 malam. Maryam, ibunda Nabi Isa ‘alaihissalam berpuasa hingga tidak berbicara dengan siapa pun (pada QS. Maryam: 26). Maka tidak heran jika Nabi Muhammad Saw sebelum diangkat menjadi Rasul telah mengamalkan puasa tiga hari setiap bulan dan turut mengamalkan puasa ‘asura yang jatuh pada hari ke- sepuluh bulan Muharram bersama masyarakat Quraisy lainnya.

            Tidak hanya manusia, makhluk hidup lainnya pun mengamalkan puasa. Makhluk yang sering dijadikan perbandingannya adalah kupu-kupu. Ulat menjijikan yang dianggap hama pada pohon, jika sudah masuk ke dalam kepompong dan melakukan puasa sampai beberapa waktu, setelah itu ia ‘terlahir’ sebagai kupu-kupu yang indah dan menyenangkan mata bagi yang melihat. Tapi perbuatan manusia tidaklah sama dengan hewan. Apapun yang dilakukannya hanya berdasar pada insting, adapun manusia bertindak karena dorongan akalnya. Karenanya kita senantiasa membedakan kata ‘shaum’ dan ‘puasa’. Hewan pun berpuasa tapi hanya manusia, lebih spesifik lagi yaitu yang beriman sajalah yang melaksanakan shaum.
           
Saat waktunya tiba, ulat akan berpuasa. Begitu pun beruang, ia tidak makan dalam waktu berbulan-bulan jika sudah tiba waktunya. Karna itulah cara bertahan hidup yang mereka ketahui. Manusia selalu selalu punya pilihan. Mereka  bisa makan dan minum bahkan secara sembunyi tapi mereka sadar untuk tidak melakukannya. Sebab itu shaum berbeda dengan ibadah lainnya, dengan shalat, sedekah, atau haji mungkin mereka bisa ‘pamer’ tapi sulit kita temui ada orang yang menyombongkan diri dengan ibadah shaum. karena semua orang pun tahu bahwa ia bisa saja makan dan minum ketika tak ada orang lain yang melihat. Karena itu, shaum hanya dilakukan karena Allah SWT. Manusia bisa kapan saja berbuat curang atau menolak untuk melaksanakan shaum sama sekali, namun orang-orang yang beriman secara sadar memilih untuk menunggu karena Allah SWT

Mereka tidak makan bukan karena di rumahnya tak ada makanan, melainkan karena mereka telah membuat pilihan. Mereka bersedia menunggu dari adzan Subuh hingga Maghrib untuk menyantap makanannya, meskipun semuanya halal dan telah terhidang di rumahnya. Itulah sebabnya Allah SWT memberi penghargaan yang sangat tinggi kepada hamba-hamba-Nya yang bersedia ‘menunggu’:
.
“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali shaum, sebab ia hanyalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung”. (HR. Bukhari)

            Menunggu adalah sebuah keindahan tersendiri. Buah yang masam jika ditunggu beberapa hari saja bisa berubah menjadi manis. Seringkali luka dalam hati tak bisa diobati dengan kata-kata atau hadiah, namun ia bisa sembuh oleh waktu.

           Menunggu adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan manusia. Jangan suruh hewan menunggu ketika sudah waktunya ia makan. Singa yang lapar akan menerkam mangsanya, tak bisa barang setengah jam pun ia menunda jika daging lezat sudah tersaji.

Jika manusia kehilangan kemampuannya untuk bersabar, maka ia telah kehilangan sebagian kemanusiaannya. Shaum adalah ibadah yang mengingatkan manusia akan jati dirinya sendiri. Bergembiralah orang yang dapat bersabar menunggu waktu berbuka!


Share:

Sabtu, 28 Maret 2020

Corona dan Teka Teki Takdir


Serangan wabah Corona yang meledak di Kota Wuhan pada penutupan tahun 2019 lalu, kini terus meluas hingga tercatat 198 negara yang tak luput dari wabah ini. Walaupun tidak mematikan artinya hampir-hampir tak ada tempat yang aman dari wabah ini. Tidak mematikan karena di negeri asalnya dari 81 ribu kasus total pasien sembuh sekitar 74 ribu dan korban meninggal sekitar 3 ribu orang. Meskipun tidak mematikan hanya saja penyebaran wabah ini sangat cepat antar manusia ke manusia lain. Inilah yang dikhawatirkan. Namun dalam ulasan ini kita sedang tidak membahas apa dan bagaimana cara yang tepat mencegah virus Corona, tapi bagaimana dengan kejadian ini kita bisa merefleksikannya sebagai bagian dari takdir Allah SWT.

Basahan mengenai takdir tentu tak bisa kita pisahkan dari soal iman, karna tak beriman seorang seorang muslim sebelum lengkap keimanannya dengan takdir Allah SWT. Dengan kata lain pembahasan takdir merupakan satu bab dari kajian-kajian tentang aqidah. Dan materi aqidah adalah salah satu materi yang suka tidak suka harus dipelajari dalam ilmu fiqih. Karna ini tak sederhana, makanya banyak yang menyebutkan jika wabah corona ini sebagai salah satu gerakan konspirasi dunia. Apalagi setelah ditutupnya akses Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, semakin heboh lagi bahwa ini adalah usaha Donald Trump dan sekutunya untuk menguasai dua kota suci ini. Padahal Trump sendiri sedang tak berdaya menghadapi gempuran Corona yang sampai saat ini Amerika adalah negara dengan kasus Corona terbesar. Padahal pasti penutupan dua masjid suci diatas sudah didasarkan fatwa ulama, belum lagi  status masjid tersebut tidak sama dengan masjid-masjid yang biasa kita temui disini.        

  Ada lagi isu corona sebagai senjata biologis pemusnah massal manusia yang bocor, yang targetnya adalah depopulasi muslim di seluruh dunia. Padahal yang kita tau, korban terbanyak corona berasal dari negara yang penduduknya bukan mayoritas muslim, seperti Amerika, China, Italia, Spanyol, dan seterusnya. Belum lagi harga minyak yang anjlok dan krisis ekonomi yang mendera sebagian besar negara. Lantas siapa yang punya kepentingan ini?

Ada juga yang mengaitkan wabah ini sebagai fenomena akhir zaman dimana berhentinya kumandang azan di masjid dan berhentinya tawaf di Ka’bah. Yang lebih ironi adalah ‘pasukan kamikaze’ istilah untuk mereka yang berani mati dan mengatakan bahwa kita tak boleh takut pada apapun kecuali kepada Allah SWT lalu menganggap remeh bahkan nyiyir dengan larangan sholat Jum’at dari MUI. Ada pula yang mengatakan kematian ada di tangan Allah SWT, mau itu karna virus atau bukan tugas kita hanya beribadah, lalu beralasan jika mati di masjid saat sholat adalah matinya orang syahid.

Rasulullah sendiri pernah menyampaikan bahwa, “Sungguh, badanmu memiliki hak atas dirimu”. (HR. Muslim). Diantara hak badan adalah membersihkan saat kotor dan mengobati saat sakit. Allah SWT juga melarang manusia melakukan berbagai tindakan yang membahayakan dirinya dari kerusakan sekalipun atas nama pendekatan agama (pada QS. Al-Baqarah: 195) dan demi penjagaan terhadap fisik/kesehatan dalam bentuk apapun, Allah SWT juga melarang manusia melakukan tindakan yang dapat membunuh diri sendiri (pada QS. An-Nisaa: 29). Memang betul maut dan rezeki ada di tangan Tuhan, tapi apakah elok jika kita bermain-main di tepi jurang atau memacu kendaraan laju-laju kemudian pasrah dengan takdir Tuhan?

Mati syahid juga tidak sesederhana mati saat sholat di masjid. Bisa saja kemudian karena terinfeksi Corona matinya di kamar atau kasur rumah sakit atau bahkan sebelum mati malah membuat runyam keadaan dengan menjadi penular virus ke orang seisi komplek. Nyatanya mati syahid adalah konsekuensi dari keseriusan, kegigihan seta kesabaran. Syahid bagi mereka yang berjihad adalah gelar terhormat yang dimiliki manusia. Lihatlah Rasulullah dalam perang Uhud dan puluhan sahabatnya yang syahid atau coba tengok Saad bin Abi Waqqash yang pergi ditandu karna sakit harus memimpin 30 ribu pasukan dan menaklukan Persia yang dipimpin Rustum dengan 120 ribu pasukan. Mereka yang menjadi syuhada sudah berupaya sangat maksimal sampai akhirnya menjemput syahidnya sendiri. Lantas apakah mereka yang abai dengan bahaya virus lalu tidak berusaha menghindarinya semaksimal mungkin bisa dikatakan mati syahid?  

Pada hakikatnya manusia takut dengan kelaparan, kehilangan, neraka, siksa kubur dan Allah SWT yang paling utama. Tapi manusia yang bijak adalah ia yang mampu menimbang dan menghitung resiko serta bahaya. Orang yang berakal tentu tak ingin anak balitanya hidup dalam kepulan asap rokok walaupun kematian sudah ada waktunya, jika dibiarkan si balita akan tumbuh besar dengan paru-paru rusak. Yang jatuh ke jurang juga tak selamanya mati, bisa saja dia cacat seumur hidup.

Pada akhirnya, sebagaimana memiliki anak, tubuh ini juga adalah sebuah amanah dari Allah SWT. Bagaimana mungkin bisa kita mempertanggung jawabkan di akhirat kelak, jika tubuh ini tidak di rawat dan dibiarkan rusak?

Toh virus Corona tidak terjadi setiap saat, mungkin ini takdir Allah SWT untuk kamu merawat diri!

Share:

Rabu, 10 Juli 2019

Kaki Tangan Iblis


Semua orang tahu Iblis bukanlah makhluk yang atheis. Iblis mengenal betul siapa yang menciptakannya. Dia juga bukan makhluk yang bodoh, sebab dia punya strategi yang canggih untuk menyesatkan umat manusia. Iblis adalah makhluk yang dekat dengan Allah. Tapi justru dia ingkar dan karena kesombongannya dia jadi pembangkang, merasa dirinya hebat. Maka jadilah saat itu dia kafir.

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Al-A’raf: 12)


Kesombongan Iblis menunjukkan siapa sebenar dirinya. Dia merasa lebih hebat dari Nabi Adam as. Iblis berasal dari api sedangkan manusia berasal dari tanah. Dirinya penuh percaya diri ketika berargumen dengan Allah. Seolah-olah ada ketidaktahuan dari Allah SWT yang Iblis coba koreksi. Kita tidak tahu persis apa yang ada dalam pikiran Iblis saat itu, padahal perintah yang Allah berikan sudah sangat jelas. Barangkali dia merasa bangga dengan menjadi kritis dibandingkan dengan para malaikat yang pemikirannya kolot main terima saja. Atau bisa jadi dia tengah ber-ijtihad yang kebetulan hasilnya berbeda dengan yang lain bahkan menentang perintah Allah. Entahlah saat itu sebenarnya seperti apa pemikiran Iblis. Yang jelas, dia sudah sombong dengan perintah sujud dihadapan manusia.

Kesalahan lain Iblis adalah buat apa dia mengingatkan Allah SWT? Mungkin Iblis mengira Allah lupa akan sesuatu. Padahal Allah Maha Tahu makhluk ciptaan-Nya, baik yang sudah terjadi atau yang belum terjadi. Banyak manusia yang juga berpikir seperti ini, seolah-olah ada sesuatu dalam syari’at Islam yang Allah tinggalkan atau Allah lupa menyempurnakan syari’at. Padahal Allah sama sekali tidak lupa, kitanya saja yang sering salah. Dikiranya Al-Qur’an itu bisa dikritisi, dicari-cari kesalahannya sampai ketemu. Bahkan sampai ada bukunya yang khusus ditulis tentang kesalahan-kesalan dalam Al-Qur’an. Setelah diteliti ternyata penulisnya yang salah memahami Al-Qur’an. Dikiranya menggunakan hijab bagi perempuan adalah membatasi kebebasan bahkan melanggar hak asasi manusia. Padahal menggunakan hijab adalah bentuk kemajuan berbusana yang dimiliki manusia sekarang dari yang lampau. Sungguh ironi.

Cikal bakal materialisme datangnya dari Iblis juga. Iblis merasa api miliknya lebih baik dari Adam as yang berasal dari tanah. Pemikiran ini muncul jika pelakunya hanya melihat unsur fisiknya saja. Maka nanti yang muncul di manusia adalah rasisme. Orang kulit putih Amerika memperbudak orang kulit hitam Afrika. Dulu oleh penjajah orang-orang pribumi tidak boleh sekolah tinggi-tinggi di Indonesia, syukur-syukur ada yang bisa sekolah. Yang diperbolehkan sekolah hanya orang keturunan penguasa, orang-orang pendatang. Munculnya fasisme juga dari sini, ketika orang Italia merasa lebih superior dibanding orang Libya, bahkan Mussolini pernah mengatakan, “harusnya orang-orang Libya merasa bangga karena diperbudak oleh bangsa Italia”. Apa bedanya ini jika ada yang mengatakan Islam nusantara lebih baik dari Islam arab.

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)

Iblis telah benar-benar sombong, yaitu menolak kebenaran yang datang dari Allah. Lantas Allah melaknat Iblis, mereka kekal di dalam api neraka. Mendengar ultimatum dari Allah, Iblis tak kehilangan akal, dia meminta kepada Allah,

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka” (QS. Al-Hijr: 39-40)

Kita mengakui Iblis telah sesat, tapi dia bisa memainkan strategi tingkat tingginya untuk menyesatkan manusia pula. Jika yang di mau Iblis adalah mengumpulkan massa sebanyak mungkin untuk membuat deklarasi perang kepada Allah, orang-orang seperti Fir’aun, Nietzsche (“God is dead”), Karl Marx (“Religion is the opium of the people”) pasti akan menyambut baik seruan ini. Tapi lebih dari itu Iblis tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini hanya untuk berperang dengan Allah, Iblis mengumpulkan sebagian besar umat manusia dari awal sampai manusia terakhir untuk memandang baik setiap perbuatan maksiat.

 Jika yang haq telah dipandang sebagai sesuatu yang batil. Perbuatan maksiat terasa sangat baik, orang yang menyimpang seolah telah pendapat petunjuk. Maka pastilah Iblis sudah membelokkan akal manusia. Jika tidak bisa ditaklukan dengan argumen lakukanlah dengan tipuan.

Perjuangan Iblis untuk meloloskan strateginya sudah Allah legalkan sekaligus cap makhluk sesat. Padahal sedikit saja Iblis menundukkan kesombongannya dan mohon ampun kepada Allah pastilah akan diampukan. Sebab sudah kepalang sombong Iblis tidak ragu-ragu dicap sebagai makhluk yang sesat. Berbeda dengan Nabi Adam as yang tergoda dengan rayuan Iblis, terjerumus dalam dosa bahkan diusir dari surga tapi Nabi Adam as bertobat dan menjadi hamba-Nya patuh. Masalah clear dengan tobat.

Sekarang tentara-tentara Iblis menyebar ke se-antero negeri. Tugas Iblis menanamkan rasa sombong ke hati manusia berhasil, bahkan orang yang terkena bisikan Iblis tak perlu lagi Iblis sibuk menyesatkan dia. Orang sombong itu akan menyesatkan dirinya sendiri dan siap menjadi kaki tangan Iblis menyesatkan orang lain. Maka jangan heran jika ada doktor atau profesor yang sombong dengan titel panjangnya itu. Seolah tak ada yang lebih pintar dibandingkan dia. Dengan itu dia membuat makalah-makalah, tesis dan desertasi yang mempertanyakan keaslian Al-Qur’an. Menghasilkan keraguan bagi yang membacanya, padahal dia adalah seorang doktor program studi Al-Qur’an. 

Inilah pesona Iblis yang tak mampu ditolak manusia. Setiap detik setiap menit Iblis membangun basis massa dan mempersenjatai mereka. Apakah kita tidak sadar jika mereka itu ada?
Share:

Jumat, 26 April 2019

Jadi Apa Alumni Ramadhan ?


Sebagai sebuah negeri yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, kehidupan di Indonesia sangat dipengaruh dengan Ramadhan. Dengan jumlah ratusan juta jiwa, setiap tahunnya selama bulan bulan Ramadhan  mereka  menjalani ibadah - ibadah spesial yang hanya ada di bulan ini. Katakanlah jika dari ratusan juta jiwa tadi yang memang benar – benar serius menuai kebaikan di bulan Ramadhan ada puluhan juta orang itu sudah cukup baik. Namun apakah memang demikian adanya?

Jika kita bercermin pada peristiwa Perang Badar, maka angka puluhan juta orang tadi seharusnya bisa memberikan efek yang fantastis. Perang Badar yang terjadi di bulan Ramadhan tahun dua hijriah yang bertepatan dengan waktu pertama kalinya ibadah shaum disyariatkan. Berjumlah tiga ratusan pasukan muslim dengan persiapan senjata apa adanya berhasil menang mutlak memukul mundur seribu-an pasukan musyrikin. Jika di Indonesia ada puluhan juta “alumni Ramadhan” tiap tahunnya dengan kualitas sebanding dengan para alumni Badar maka kita sulit membayangkan betapa besar pengaruhnya di dunia. Tapi kita semua tau sayangnya itu tidak terjadi.

Apa yang sebernarnya terjadi? Jika prediksi puluhan juta dari ratusan juta tadi tidak realistis, maka pastilah ada kesalahan fatal dalam pemahaman dan pelaksanan ibadah Ramadhan di negeri ini. Begitu luasnya kesalahan yang terjadi sehingga berjuta – juta umat muslim tidak mampu memberikan perubahan yang signifikan padahal bulan Ramadhan tidak pernah absen tiap tahunnya.

Indonesia tidak pernah kehabisan pembicaraan mengenai Ramadhan. Bulan suci ini adalah favoritnya setiap orang, mulai dari aktivis dakwah sampai pemain sinetron. Sebagian orang begitu gigih menjaga “etos kerja” di bulan Ramadhan. Bahkan konon ada artis yang shaum-nya bolong karena begitu kelelahan mengisi acara – acara khusus Ramadhan setiap harinya. Sementara itu para “ahli agama” juga tidak sedikit menghabiskan waktunya mendebat tentang jumlah raka’at sholat tarawih atau dengan kesabaran menjawab pertanyaan masyarakat seputar batal tidaknya shaum seseorang yang diinfus karena sakit.

Hal diatas secara tidak langsung memberikan gambaran mengenai kondisi masyarakat kita yang diasumsikan mereka mengerjakan shaum, tapi mungkin sebagian besarnya tidak terlalu serius memikirkannya atau bisa jadi menggunakan pemahaman yang keliru dalam berpikir. Padahal ibadah shaum, kenyataannya bisa dipelajari oleh siapa saja bahkan anak kecil. Tapi mungkin masalahnya disitu, banyak yang hanya sekedar bisa.

Jika menunjuk bulan janganlah fokus pada jarinya dan mengaburkan bulan yang indah diatas. Begitu perumpamaan dengan shaum Ramadhan. Ujung dari perintah shaum ini adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Itu harapan besar dari Al-qur’an. Tapi lagi – lagi sebagian dari masyarakat berfokus pada jari bukan pada bulan. Dianggapnya shaum hanya tidak boleh makan, minum, dan berhubungan suami istri pada siang harinya. Memang jika mengerjakan salah satunya pada waktu subuh sampai maghrib maka shaum akan batal, tapikan tidak sesederhana itu kita memaknai Ramadhan.

Shaum seperti segala sesuatunya juga dipengaruhi secara langsung oleh jam terbang. Semua orang maklum jika anak 4 – 5 tahun shaum kemudian berbuka tengah hari dan melanjutkannya lagi hingga magrib, begitu juga dengan muallaf, karna itu adalah hal baru bagi mereka. Tubuh mereka perlu dikondisikan dan beradaptasi dengan shaum. Semakin tinggi jam terbangnya maka tuntutan pun semakin tinggi. Target – target ibadah dibuat. Jumlah tilawah mulai dipertanyakan, sholat duha mejadi “menu wajib”, ibadah wajib dimantapkan, ibadah sunah digetolkan, pemahaman ibadan shaum semakin tinggi. Tidak ada lagi yang ingat soal lapar dan haus, kedua hal itu tidak menjadi relevan lagi. Tidak ada lagi keluhan lemas – lemas, tidak bertenaga di bulan Ramadhan. Karena tubuh sudah terbiasa hasil dari latihan selama bertahun – tahun.

Sedikit saja yang ingat bahwa tujuan akhir kita agar kita semakin bertaqwa, semakin awas dengan keadaan diri kita, semakin berhati – hati agar tidak melalaikan kewajiban atau terjerumus dalam kemaksiatan. Tidak heran, sebab pikiran mereka disibukkan dengan lapar dan haus selebihnya tidak relevan.


   
Share: